Kamis, 29 Mei 2014

Puisi Dalam Kegelapan



Di malam yang terasa hati ini gelap dan hati yang merasa begitu sesak untuk bernafas,
Aku ingin mengatakan kepada bintang,
Bahwa saat ini aku rindu, aku benci, aku sebal dan saat ini merasakan perihnya merindu,
Hati yang bisa dibilang tersakiti,
Tersakiti oleh ketajaman cinta yang tak pasti,
Mungkin tidak akan pernah ada kepastian cinta,
                                             Tubuh ini pun lemah, hati ini pun telah rapuh,
                                             Rapuh karena pahitnya cinta yang melebihi pahitnya kopi,
                                             Namun inilah kehidupan, walaupun terasa pahit,
                                             Akupun harus menelannya, harusnya menelannya dengan terpaksa,
                                             Akupun akan terus berusaha untuk selalu tersenyum,
                                             Walau hati terasa memang sangat perih,
Hanya sakit yang ku pendam saat ini,
Sakit karena merindu,
Sakit karena cinta dalam hati yang tidak ada kepastian,
Ingin rasanya aku ingin melangkahkan kaki,
Melangkahkan kaki ditempat yang sunyi, yang sejuk, yang jauh dari hiruk pikuk kehidupan,
Dan ditempat itu aku ingin bertemu dengan Tuhan,
Aku ingin menceritakan kepadanya,
Betapa rapuh dan sakitnya hati ini,
Aku pun ingin berada dipangkuannya,
Aku ingin bersandar dipundakmu Tuhan,
                                             Jika dapat aku menangis, mungkin air mata ini akan melebihi derasnya hujan
                                             Jika dapat aku berteriak, mungkin teriakan ini sampai ketelinga yang ada dipenjuru dunia,
                                            Namun lagi-lagi tubuh inipun tak berdaya,
                                            Jangan kan untuk berteriak, untuk berdiri pun kaki ini terasa sangat rapuh.
                                            *puisi dalam kegelapan malam*.

Senin, 19 Mei 2014

SUKA DUKA KEHIDUPANKU



 Riwayat Hidupku
Nama saya Durrotun Nafisah, saya anak pasangan dari Muhammad Kamri dan Muropiah. Saya adalah anak ke-2 dari 3 bersaudara. Saya lahir pada tanggal 6 novenber 1994. Saya mempunyai kakak laki-laki yang bernama Ahmad Fauzi, jarak usia saya dengan kakak adalah 5 tahun. Saya juga mempunyai adik perempuan yang bernama Dwi Ika Rahmawati, jarak usia saya dengan adik adalah 11 tahun. Saya merasa beruntung karena hidup diantara mereka, orang-orang yang luar biasa. Sewaktu saya masih kecil dan sebelum lahirnya adik saya, saya merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, waktu saya kecil saya begitu dimanja dan disayangi oleh Ayah saya. Karena saya satu-satunya anak perempuan pada waktu itu.
Pada waktu kecil saya lebih dekat dengan Ayah dibanding dengan Ibu, namun kakak saya lebih dekat dengan ibu dibandingkan dengan ayah. Betapa bahagianya masa kecil saya dulu, yang selalu disayangi dan diperhatikan oleh Ayah. Saya adalah anggota keluarga yang diutamakan oleh ayah dalam kasih sayang yang diberikannya, perhatian dan kasih sayang ayah tercuri oleh saya dan terkadang ibu saya pun merasa cemburu karena perhatian ayah yang selalu tertuju kepada saya. Setelah saya beranjak usia 4 tahun, saya merengek dan ingin untuk masuk TK, sebenarnya orang tua saya tidak mengizinkan saya sekolah pada usia itu karena pada umumnya teman-teman saya berusia 5 tahun baru masuk TK.
Setelah saya lulus dari TK, saya pun meneruskan pendidikan saya di SD Karangasem Sayung Demak. Pada masa ini pun saya masih manja dan bergantung dengan kedua orang tua, mulai dari makan yang masih minta disuapi oleh ibu, memakai baju sekolah, memakai sepatu, sampai pergi ke sekolah pun masih diantar oleh ayah, padahal jarak antara sekolah dan rumah saya tidaklah jauh. Pada waktu kelas 6 SD pun saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena pada waktu itu lahirnya seorang gadis yang cantik terlahir di dunia ini. Betapa bahagiaanya hati ini mempunyai adik perempuan yang selama ini sangat saya harapkan dan yang saya tunggu-tunggu, karena begitu bahagianya saya selalu menjaga dan merawat adik saya ketika ia masih kecil. Disamping kebahagiaan karena memiliki adik yang cantik, saat itu pula saya merasa mengalami penurunan kasih saying dari ayah, perhatian dan kasih sayangnya pun mulai tertuju dan tertuang kepada adik, saya pun mengalami pergeseran kasih sayang dari ayah. Semuanya yang menjadi pusat perhatian dankasih sayang dari ayah hanyalah kepada adik, sehingga terkadang saya pun merasa iri dengan adik.
Sebelum saya lulus dari SD, saya sudah memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan di Futuhiyyah Mranggen dan ingin pula bisa mondok disana seperti teman-teman saya yang lain. Tapi apalah daya, Allah memiliki rencana lain. Kedua orang tua saya tidak mengizinkan saya melanjutkan pendidikan di sekolah yang jauh letaknya dari dari rumah saya karena biaya yang menghambat keinginan saya saat itu dan alasan selain itu adalah karena saya masih kecil dan kedua orang tua saya pun belum berani melepaskan saya sekolah jauh. Waktu itu saya pun merasa sedih karena tidak bisa seperti teman-teman lainnya yang akan melanjutkan pendidikan disana, alasan yang diberikan oleh kedua orang tua saya yang tidak mengizinkan saya meneruskan pendidikan di Futuhiyyah Mranggen, dengan berjalannya waktu saya mencoba bisa memahaminya dan bisa mengerti dengan alasan itu. Kedua orang tua saya pun berkata kepada saya, saya boleh ke pondok setelah lulus dari MTS karena sulit untuk kedua orang tua saya melepaskan saya ke pondok ketika lulus dari SD. Dengan perkataan kedua orang tua saya seperti itu, akhirnya saya pun dapat luluh dan mau mengikuti keinginan mereka untuk sekolah di tempat yang letaknya tidak jauh dari rumah, saat itu pun saya benar-benar mengubur dalam-dalam keinginan saya yang ingin ke pondok pesantren.
Setelah itu dengan terpaksa saya melanjutkan pendidikan di MTS Darul Ulum Sayung Demak, letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya. Pada saat sekolah disana saya merasa menyesal karena sistem pembelajarannya yang kurang baik, sangat minim sekali yang berniat belajar di sekolah itu, mungkin hanya 1-2 % yang serius dalam belajar. Saya merasa tidak mendapatkan pelajaran apapun disana. Dalam sekolah itu adalah yang terpenting berangkat kesekolah tanpa memperdulikan pelajaran apa yang akan didapatkannya disana. Namun waktu pun terus berputar, tidak terasa sudah tiga tahun tidak terasa masa-masa itu pun akan berlalu. Masa-masa yang saya tunggu-tunggu pun telah tiba, yang ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mondok seperti apa yang pernah diucapkan oleh kedua orang tua saya.
Setelah saya lulus dari MTs Darul Ulum Sayung Demak saya mempunyai rencana ingin melanjutkan sekolah di MAN 1 maupun MAN 2 semarang, namun lagi-lagi alasannya biaya yang membuat kedua orang tua saya tidak mengizinkan sekolah disana, kedua orang tua saya menyatakan tidak mampu membiayai sekolah saya apabila saya sekolah dengan mondok, namun jika saya melanjutkan sekolah disana dengan tanpa mondok, tidak adanya kendaraan yang menjadikan saya tidak bisa melanjutkan sekolah disana. Orang tua saya meminta supaya saya melanjutkan sekolah di Bulusari lagi, karena letaknya yang lagi-lagi menjadi alasan dengan rumah. Waktu itu pun saya menangis dan mengalami penolakan yang hebat terhadap keinginan saya itu. Saya ingin sekali rasanya melanjutkan di MAN dan bisa mondok disana, namun lagi-lagi tidak mendapatkan persetujuan dari kedua orang tua saya. Hal yang menjadi gejolak dihati saya adalah saya harus memendam keinginan terbesar saya untuk mondok, karena keinginan saya yang ingin sekali ke pondok, saya pun pernah berkata kepada ibu saya: “saya tidak bisa melanjutkan sekolah tidak apa-apa ibu, yang terpenting saya dapat mondok, jika biaya yang menjadi penghambat saya tidak bisa mondok, saya rela untuk tidak melanjutkan pendidikan saya”. Namun ibu menolak keinginan saya yang hanya ingin mondok saja tanpa melanjutkan pendidikan, karena menurut ibu di zaman yang maju seperti ini saying apabila tidak bisa melanjutkan pendidikan. Ibupun mencoba membujuk saya supaya saya mau melanjutkan sekolah tanpa mondok, berat bagi saya pada waktu itu mengikuti keinginan dari kedua orang tua saya. Namun saya pun berpikir berulang-ulang kali hingga akhirnya saya pun mencoba menerima keputusan dari kedua orang tua saya, satuhal yang membuat saya waktu itu berat untuk menerimanya, karena kedua orang tua saya pernah berkata setelah saya lulus dari MTs diizinkan sekolah dengan mondok, namun mengapa mereka tidak menepati perkataan yang pernah mereka ucapkan sendiri, ingin rasanya waktu itu saya menangis dan ingin mengeluarkan semua perkataan yang pernah mereka ucapkan kepada saya, namun inilah saya, yang tidak pernah berani mengungkapkan isi hati kepada mereka, saya merasa takut apabila ingin mengungkapkan semua isi hati saya.
Saya mencoba menerimanya dan mengikuti keinginan ibu, namun saya pun masih menyimpan keinginan yang besar untuk mondok. Akhirnya dengan terpaksa saya melanjutkan pendidikan di MA Darul Ulum Sayung Demak lagi, sistem pembelajarannya pun tidak jauh berbeda dengan pembelajaran pada waktu di MTs, tidak ada keseriusan dalam pembelajaran, dalam lingkungannya pun tidak ada yang serius dalam mencari ilmu. Disamping itu, pihak orang tua pun tidak pernah menanyakan tentang sekolah saya dan tidak pernah membimbing saya  dalam belajar, mereka tidak pernah menanyakan bagaimana pelajaran saya di sekolah. Sampai tiga tahun pun saya lalui dan sampai akhirnya masa MA itu pun saya lalui tanpa keseriusan dalam belajar. Saya adalah orang yang jarang bergaul dengan teman sebaya saya di kampung karena karena tidak adanya teman seusia saya di lingkunag sekeliling saya, yang hanya hanyalah anak-anak. Bisa dibilang kalau saya adalah orang yang tertutup dengan kedua orang tua saya karena dari kecil pun saya tidak terbiasa bercerita dengan kedua orang tua saya. Tidak seperti teman-teman saya yang lain yang mereka sudah terbiasa menceritakan semua masalahnya dengan kedua orang tuanya. Jika saya mempunyai masalah, masalah itu saya pendam sendiri dan terkadang tidak tahu ingin menceritakannya dengan siapa, saya takut apabila saya ingin cerita dengan kedua orang tua saya. Mereka terlihat lelah dan sibuk dengan aktifitas mereka dan asing buat saya untuk cerita dengan kedua orang tua saya tentang masalah yang saya hadapi. Saya dulu pernah cerita tentang permasalahan saya dengan mereka, namun reaksi mereka tidak lain lagi yaitu selalu marah dan marah sehingga saya pun takut ketika ingin cerita kepada mereka. Sangat menyakitkan buat saya selama ini karena selalu memendam permasalahan saya ini, bertahun-tahun saya memendam semua perasaan seperti ini. Saya merasa hidup saya hampa dan kesepian karena tidak adanya sesorang yang dapat berbagi kesedihan dan tidak adanya teman curhat, saya merasa hidup sendiri, saya terasa hidup di dalam hutan. Saya hanya terfokus dengan pekerjaan yang ada di rumah dan saya pun sering merasakan kebosanan, bosan dengan keadaan rumah yang komunikasinya bisa dibilang kurang baik dan terkadang pun merasa tidak perduli satu dengan yang lainnya. Hanya gejolak batin yang saya rasakan, saya kesepian, saya butuh teman curhat dan teman bercanda.
Setelah saya lulus dari MA saya mondok di PP Bustanu Ussyaqil Qur’an Demak. Moment yang selama ini saya tungu-tunggu akhirnya terlaksana juga. Namun saya tidak bertahan lama disana, saya hanya bertahan selama satu bulan karena peraturan pondok yang sangat-sangat ketat yang membuat saya tidak bertahan lama disana. Saya sangat menyesal karena saya salah memilih pondok, pondok itu mempunyai peraturan yang sangat ketat yang tidak sesuai dengan karakter saya yang tidak suka apabila terlalu dikekang. Setelah saya meminta keluar dari pondok, saya kursus jahit sebagai bekal saya untuk bekerja, setelah tiga bukan saya kursus jahit, saya akhirnya kerja dan itupun tidak bertahan lama, hanya satu bulan lebih tiga minggu saya bertahan disana. Kakak saya tidak tega melihat saya kerja, kakak saya pun ingin mendaftarkan saya kuliah di IAIN Walisongo Semarang dan meminta saya untuk keluar dari pekerjaan saya, akhirnya saya memutuskan keluar dari pekerjaan itu dan melanjutkan kuliah disini. Awal masuk kuliah saya merasa minder dengan teman-teman yang lainnya, yang pintar dan cerdas. Namun kakak, teman, dan guru saya selalu mendukung dan meyakinkan kepada saya bahwa saya mampu seperti teman-teman yang lainnya. Dan kini saya pun mulai percaya diri, saya pun sering mendengar teman-teman yang menyesal karena kuliah disini, namun tidak bagi saya, bagi saya anugrah yang luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada saya karena menempatkan di tempat yang luar biasa ini. Banyak sekali pelajaran dan hikmah yang dapat saya ambil ketika saya berada disini. Disinilah salah satu tempat terindah dalam hidup saya karena berada di tempat yang memberikan banyak pelajaran ini dan mampu mengubah sosok Nafis yang menjadi lebih baik lagi, mulai dari sikap, pemikiran dan semangatnya dalam menjalani kehidupan ini. Setelah saya berada disini banyak hal yang berubah dalam diri saya, termasuk perubahan yang terjadi pada keluarga saya yang sekarang saling menyayangi satu sama lain dan perhatian yang mulai terlihat dari semua anggota keluarga kami, saya merasa bahagia dan senag sekali dengan kehidupan saya yang sekarang ini, apa lagi perubahan yang terjadi pada kakak saya yang drastic kepada sya, semakin perhatian, selalu memberikan semangat, lebih memahami bagaimana perasaan saya, dan saying sekali dengan saya, saya baru merasakan kasih sayang dari kakak saya ketika saya kuliah disini, dan kini sikap ibu pun berubah yang memandang saya sekarang adalah sudah dewasa dan mau mendengarkan cerita maupun nasehat dari saya. Dan yang terakhir ayah saya, walaupun ayah saya kelihatannya cuek dengan saya, ternyata dibalik itu semua terdapat kasih sayang dan perhatian dari ayah saya yang tidak ditampakkan oleh saya, walaupun terlihat cuek dengan saya ternyata diam-diam perhatian kepada saya. Dan saya pun senang sekali memiliki adik yang cantik, imut, dan cerewet.

Sabtu, 03 Mei 2014

KESAKITAN KU



                                                                        KESAKITAN 

Aku tau Ya Allah kalau diri ini sangat bersalah dan berdosa karena merasa sakit tak mampu lagi untuk berdiri tegak berada dalam dunia yang fana ini, maafkan aku Ya Allah yang selalu saja mengeluh dengan keadaan ini, diri ini pun sangat lelah dan capek sekali karena hati ini yang selalu saja mengeluh dan menangisi kehidupan ini. Aku percaya kalau Allah telah merencanakan hal yang sangat luar biasa dan besar untukku, namun tak bisa ku pungkiri kalau hati dan jiwa ini pun merasa lelah dan sakit, ingin rasanya aku berada dalam pangkuan mu saja dan tidak terlahir dalam dunia ini, maafkan aku Ya Allah karena aku telah berkata seperti ini, namun inilah suara hatiku, inlah yang selama ini ku pendam dalam-dalam dihatiku, ingin rasanya aku tetap saja berada dalam pangkuan dan dekapan mu saja, namun apa boleh buat, inilah kenyataannya, aku pun tak dapat berbuat apa-apa, hanya kepasrahan lah dan kerelaan hati dalam menerima takdir yang Allah berikan kepadaku, apa aku harus menyalahkan ayahku yaitu Adam karena perbuatannya kini menjadikan aku berada dalam dunia ini, atau apakah aku harus menyalahkan Hawa karenanya aku terlahir dalam dunia ini, terasa menyakitkan dan tak adil jika aku menyalahkan mereka, namun adanya aku di dunia ini adalah karenanya. Akupun selalu bertanya pada diri ku sendiri, sampai kapan aku akan merasa seperti ini, merasa menyesal dan bersedih karena berada dalam dunia ini? Sampai kapan aku selalu meratapi takdir yang telah ditentukan Allah untukku? Sampai kapan aku akan selalu berkata tak mampu untuk menjalani kehidupan ini? Bila Allah kini berada disampingku dan akupun dapat melihatnya, aku ingin berada dipangkuannya dan menangis,aku akan berkata: maafkan aku Ya Allah karena aku masih saja tidak dapat menerima kehidupan ini, aku pun sangat lelah dan capek karena selalu mengeluh kepadamu Ya Allah, mengapa engkau menciptakan aku seperti ini, seorang wanita yang selalu mengeluh dengan semua keadaan yang ada dalam dunia ini, mengapa aku berbeda dengan teman-teman ku yang lain, seorang wanita yang tegar dan kuat dalam menjalani kehidupan ini, Allah aku ingin selalu dipangkuan dan pelukan mu saja, aku ingin Engkau mengahapuskan air mata ku ini yang tak pernah berhenti menetes dan tak pernah kering ini walaupun beribu kali aku telah menangis.
namun sesakit dan sesedih apapun diriku, aku ingin terasa bahagia dan gembira didepan orang-orang di sampingku dan saat ini pun aku telah belajar dan berusaha untuk selalu tersenyum didepan mereka di saat aku sedih sekalipun, akupun berhasil melakukannya, disaat aku sedih kini aku berusaha selalu tersenyum dan bahagia dan bahkan teman-teman mengira kalau aku sedang senang padahal waktu itu aku menyembunyikan kesedihan yang amat sangat mendalam, setidaknya usahaku berhasil untuk menyembunyikan kesedihan ku.
Allah, ingin rasanya aku meneteskan air mata kesedihan ini agar kesedihan ini pun sirna, namun terlalu banyak dan lelah aku mengeluarkan air mata ini. Aku ingin teriak YaAllah, sebagai ungkapan hati ku yang memang benar-benar sedih dan rapuh, Allah maafkan aku… aku rapuh,,.. huft

Sabtu, 05 April 2014

PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK



PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Orang tua mempunyai peran yang sangat penting dalam pendidikan anak. Orang tua pasti menginginkan anaknya tumbuh menjadi anak yang baik dan mempunyai akhlaq yang terpuji. Peran orang tua sangat mempengaruhi pertumbuhan anaknya. Semua tindakan yang dilakukan oleh anak berasal dari didikan dari kedua orang tuanya.
Anak tidak hanya membutuhkan materi saja dari kedua orang tuanya, anak juga membutuhkan kasih sayang, perhatian, pendidikan dan juga sebagai teman yang mendengarkan semua ceritanya. Disini yang dibutuhkan bukan hanya peran sebagai orang tuanya saja, tetapi bisa menjadi kakak dan teman curhat untuknya. Dengan seperti ini, diantara kedua orang tua dan anak tidak ada sesuatu yang disembunyikan dan akan adanya keterbukaan anak kepada orang tua. Banyak kasus dijumpai banyak anak yang terjerumus ke dalam hal-hal yang negatif karena kurangnya perhatian dan keterbukaan diantara mereka.
Mengenai begitu maraknya perbuatan-perbuatan anak remaja yang terjerumus dalam lembah hitam, orang tua adalah orang yang pertama yang akan menanggung perbuatan anak,orang tua mempunyai peran yang pokok dengan perbuatan yang dilakukan oleh anaknya. Seperti yang telah kita ketahui bahwa perbuatan anak sesuai dengan didikan orang tuanya. Dalam pendidikan yang diberikan orang tua mungkin terlalu bebas dalam pergaulan anaknya atau mungkin tidak memberikan hukuman disaat anak melanggar peraturan kedua orang tuanya. Dengan adanya hal seperti ini menandakan kurangnya perhatian, kurangnya kepatuhan anak terhadap peraturan orang tuanya dan komunikasi yang kurang baik dengan kedua orang tuanya. Orang tua diharapkan membuat perencanaan dan prinsip yang akan diterapkan dalam pendidikan di dalam keluarganya, pendidikan seperti apa yang akan di terapkan untuk anaknya yang tidak membuat anak merasa dikekang dan tidak begitu saja memberikan kebebasan untuk anaknya dalam bergaul.