Minggu, 15 Juni 2014

Makalah manajemen berbasis sekolah



MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Sri Isnani Setyaningsih, S. Ag. M. Hum


Disusun Oleh :

DURROTUN NAFISAH
(133311036)



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2014


I.                 PENDAHULUAN
Dalam kondisi apapun komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan hendaknya tidak berubah.Pemerintah tetap konsisten untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas pendidikan.Untuk kepentingan tersebut, berbagai program telah diluncurkan. Diantaranya, melalui program “Aku Anak Sekolah”, pemerintah Indonesia memberikan dukungan beasiswa kepada peserta didik serta dana bantuan operasional (DBO) bagi sekolah yang tidak mampu, untuk menyelamatkan kuantitas dan kualitas pendidikan, khususnya pendidikan dasar.
Berbagai program yang dilaksanakan telah memberikan harapan bagi kelangsungan dan terkendalinya kualitas pendidikan Indonesia semasa kritis. Akan tetapi, karena pengelolaannya yang terlalu kaku dan sentralistik, program itu pun tidak banyak memberikan dampak  positif, angka partisipasi pendidikan nasional maupun kualitas pendidikan tetap menurun. Diduga hal tersebut erat kaitannya dengan masalah manajemen.Dalam kaitan ini, muncullah salah satu pemikiran ke arah pengelolaan pendidikan yang memberi keleluasan kepada sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan secara luas. Pemikiran ini dalam perjalanannya disebut manajemen berbasis sekolah (MBS) atau school based manajemen (SBM), yang telah berhasil mengangkat kondisi dan memecahkan berbagai masalah pendidikan di beberapa Negara maju, seperti Australia dan Amerika.[1]
Seperti halnya dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä(#qãèÏÛr&©!$#(#qãèÏÛr&urtAqߧ9$#Í<'ré&ur͐öDF{$#óOä3ZÏB(bÎ*sù÷Läêôãt»uZs?Îû&äóÓx«çnrŠãsùn<Î)«!$#ÉAqߧ9$#urbÎ)÷LäêYä.tbqãZÏB÷sè?«!$$Î/ÏQöquø9$#ur̍ÅzFy$#4y7Ï9ºsŒ×Žöyzß`|¡ômr&ur¸xƒÍrù's?ÇÎÒÈ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An-Nisa’ ayat 59).[2]

II.               RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian MBS?
B.    Bagaimana sejarah munculnya MBS?
C.    Apa saja alasan dan tujuan diterapkannya MBS?

III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian MBS
Secara leksikal, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah.Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[3] Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberikan pelajaran.[4]
            Istilah Manajemen Berbasis Sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”[5]. Istilah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat.[6] Tuntutan perubahan lingkungan sekolah dimaksud antara lain tuntutan dunia kerja, tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan sosial, ekonomi, hukum dan politik. Secara lebih sempit MBS hanya mengarah pada perubahan tanggung jawab pada bidang tertentu seperti dikemukakan Kubick (1998).MBS meletakkan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dari pemerintah daerah kepada sekolah yang menyangkut bidang anggaran, guru, siswa, dan orang tua.
            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa MBS adalah model pengelolaan sekolah dengan memberikan kewenangan yang lebih besar pada tingkat sekolah untuk mengelola sekolahnya sendiri secara langsung.[7]MBS merupakan salah satu wujud dari reformasi pendidikan yang menawarkan kepala sekolah untuk menyediakan pendidikan yang lebih baik dan memadaibagi para peserta didik.[8]
Manajemen peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) merupakan sistem pengelolaan persekolahan yang memberikan kewenangan dan kekuasaan kepala sekolah untuk mengatur kehidupannya sesuai dengan potensi, tuntutan, dan kebutuhan sekolah yang bersangkutan.[9]

B.    Sejarah MBS
Latar belakang munculnya Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) tidak terlepas dari kinerja pendidikan di suatu negara berdasarkan sistem pendidikan yang ada sebelumnya.Di Hong Kong misalnya, kemunculan MBS dilatar belakangi kurang baiknya sistem pendidikan saat itu.Antara tahun 1960-an hingga 1970-an berbagai inovasi dilakukan melalui pengenalan kurikulum baru dan pendekatan metode pengajaran baru dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, namun hasilnya tidak memuaskan. Demikian juga di negara lain seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Prancis, Selandia Baru dan Indonesia.
            Di Indonesia, latar belakang munculnya MBS tidak jauh berbeda dengan negara-negara maju yang terlebih dulu menerapkannya. Perbedaan yang mencolok adalah lambatnya kesadaran para pengambil kebijakan pendidikan di Indonesia. Bayangkan saja di banyak negara gerakan reformasi pendidikan model MBS ini sudah terjadi pada tahun 1970-an  dan disusul di banyak negara pada tahun 1980-an, namun di Indonesia baru dimulai 30 tahun kemudian. Hal ini tidak terlepas dari sistem pemerintahan otoriter selama orde baru. Semua diatur dari pusat, yaitu di Jakarta baik dalam penentuan kurikulum sekolah, anggaran pendidikan, pengangkatan guru, metode pembelajaran, buku pelajaran, alat peraga hingga jam sekolah maupun jenis upacara yang harus dilaksanakan sekolah.
            Selama bertahun-tahun upaya perbaikan pendidikan selalu dilaksanakan dengan cara tambal sulam. Hingga buku ini ditulis pun belum ada upaya reformasi pendidikan yang sesungguhnya, yang terjadi hanyalah inovasi pendidikan yang masih setengah hati karena keengganan para birokrat pendidikan. Apa yang dimaksud dengan MBS di Indonesia sebenarnya belumlah merupakan bentuk reformasi , karena tidak terpenuhi beberapa prasyarat dan melewati tahap-tahap yang benar.
            Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa MBS muncul karena beberapa alasan.Pertama, terjadinya ketimpangan kekuasaan dan kewenangan yang terlalu terpusat pada atasan dan mengesampingkan bawahan.Kedua, kinerja pendidikan yang tidak kunjung membaik bahkan cenderung menurun di banyak Negara.Ketiga, adanya kesadaran para birokrat dan desakan dari para pecinta pendidikan untuk merestrukturisasi pengelolaan pendidikan.
C.    Alasan dan Tujuan Diterapkan MBS
MBS di Indonesia yang menggunakan model MPMBS muncul karena beberapa alasan, antara lain pertama, sekolah lebih mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya.Kedua, sekolah lebih mengetahui kebutuhannya.Ketiga, keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengambilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat.
Alasan profesional bahwa tenaga kerja sekolah harus berpengalaman dan memiliki keahlian untuk membuat keputusan pendidikan yang paling sesuai untuk sekolah terutama untuk para siswa. Tenaga kerja yang profesional juga dapat memberi sumbangan pengetahuan kependidikannya yang berkaitan dengan kurikulum, pedagogi, pembelajaran, dan proses manajemen sekolah. Mereka juga mampu memberi motivasi dan komitmen yang lebih baik untuk pengajaran di sekolah.
Tujuan penerapan MBS untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kualitas kurikulum, kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum.Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraannya pula.
MBS menganggap keberhasilan pendidikan seperti dikemukakan oleh Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS, keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang, bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. Keberhasilan pendidikan harus berada dalam konsep yang lebih luas yang diantaranya mencakup hal-hal berikut ini: pola keterampilan berpikir yang lebih baik, pemahaman dan penghargaan pada multi budaya, menurunnya tingkat putus sekolah (drop-out), pelayanan kepada masyarakat, terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran), partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi, pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah, dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni.[10]

IV.            SARAN
Dari pembahasan di atas sudah sangat jelas apakah yang dimaksud dengan Manajemen Berbasis Sekolah dan dalam pembahasan tersebut juga sudah banyak penjelasan hal apa saja yang harus dilakukan dalam pelaksanaan MBS tersebut agar pelaksanaan MBS dapat berhasil sesuai tujuan yang ingin dicapai. Menurut penulis sendiri, untuk mencapai keberhasilan MBS perlunya tenaga ahli yang profesional dalam melaksanakan MBS tersebut, cara menumbuhkan inovasi sendiri sangat diperlukan supaya dapat mencapai tujuan sesuai rencana, tentunya tidak mudah untuk para guru dalam melaksanakan MBS tersebut maka  diperlukannya kerja sama, saling melengkapi dalam kinerja dan musyawarah dalam mengambil keputusan. Dengan kombinasi yang demikian rupa, akan mudah untuk mencapai keberhasilan MBS yang telah direncanakan.





V.              KESIMPULAN
Sekarang ini perlu kita harus menyadari akan pentingnya manajemen berbasis sekolah, yang memberikan kewenangan penuh kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan dan pengajaran, merencanakan, mengorganisasi, mengawasi, mempertanggungjawabkan, mengatur, serta memimpin sumber daya insani serta barang-barang untuk membantu pelaksanaan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan sekolah. Manajemen berbasis sekolah juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik, guru-guru, serta kebutuhan masyarakat setempat.Untuk itu, perlu dipahami fungsi-fungsi pokok manajemen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pembinaan. Dalam prakteknya keempat fungsi tersebut merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Oleh karena, perlu adanya keempat fungsi itu agar dapat terciptanya sekolah seperti yang diharapkan.

VI.            PENUTUP
Demikian makalah ini saya sampaikan.Saya sadar bahwa karya tulis ini belum sempurna baik dari segi penulisan maupun materi yang disampaikan. Oleh karena itu saya sangat berharap akan kritik dan saran dari pembaca untuk kemajuan dan perbaikan makalah berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca.Amin.



[1]E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002. Hlm. 10.
[2]Al-Qur’anul Karim.Surat An-Nisa’.Ayat 59.Hlm. 86.
[3]Engkoswara dan Aan Komariyah.Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. 2010. Hlm. 86.
[4]Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi. Jakarta: PT Grasindo. 2003. Hlm. 1.
[5]Husaini Usman. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2008. Hlm. 573.
[6] E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi. Hlm. 24.
[7]Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi. Hlm3-11.
[8] E. Mulyasa. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi. Hlm. 24.
[9] E. Mulyasa. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. 2011. Hlm.177.
[10]Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi. Hlm. 16-29.
 


                                                            DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’anul Karim. Surat An-Nisa’.Ayat 59.

Engkoswara dan Komariyah. Administrasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta. 2010.

Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2002.

Mulyasa, E. Manajemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. 2011.

Nurkolis. Manajemen Berbasis Sekolah Teori, Model, dan Aplikasi. Jakarta: PT Grasindo. 2003.

Usman, Husaini. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 2008.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar